teori ancaman eksternal

mengapa musuh bersama bisa menyatukan kelompok yang retak

teori ancaman eksternal
I

Coba teman-teman ingat kembali dinamika hubungan kita dengan saudara kandung di rumah. Hari ini kita bisa bertengkar hebat hanya karena rebutan remot TV atau masalah sepele soal siapa yang harus cuci piring. Rasanya seperti musuh bebuyutan. Tapi, apa yang terjadi ketika ada orang luar—misalnya tetangga atau teman sekolah—yang mengejek atau mengganggu saudara kita? Tiba-tiba, tanpa aba-aba, kita maju paling depan untuk membelanya. Permusuhan di rumah seketika menguap. Kita dan saudara kita mendadak jadi tim yang solid. Lucu, kan? Fenomena ini bukan kebetulan semata. Ada sebuah lelucon lawas yang bilang bahwa cara tercepat untuk mendamaikan dua orang yang sedang berkelahi adalah dengan melemparkan harimau ke dalam ruangan tersebut. Tiba-tiba, mereka bukan lagi dua orang musuh. Mereka adalah dua orang manusia yang harus bekerja sama agar tidak dimakan harimau. Di balik skenario komikal ini, tersembunyi sebuah rahasia besar tentang bagaimana otak kita dan peradaban manusia berevolusi.

II

Untuk memahami mengapa harimau tadi bisa menyatukan kita, mari kita mundur sejenak ke tahun 1954. Saat itu, seorang psikolog bernama Muzafer Sherif melakukan sebuah eksperimen klasik yang sangat terkenal, namanya Robbers Cave Experiment. Ia mengumpulkan sekumpulan anak laki-laki berusia 11 tahun di sebuah perkemahan musim panas. Anak-anak ini dibagi menjadi dua kelompok yang terpisah. Awalnya mereka tidak saling kenal. Lalu, Sherif mulai mengadakan kompetisi antar kelompok. Tarik tambang, bisbol, kebersihan tenda. Hasilnya bisa ditebak. Mereka mulai saling mengejek, membakar bendera kelompok lawan, hingga mencuri barang. Permusuhan merajalela. Pertanyaannya, bagaimana cara Sherif mendamaikan mereka? Apakah dengan duduk melingkar dan menyuruh mereka saling memaafkan? Tentu tidak. Sherif menciptakan sebuah krisis tiruan. Ia menyumbat saluran air minum di perkemahan tersebut. Tiba-tiba, semua anak kehausan. Mereka sadar, tidak ada satupun kelompok yang bisa memperbaiki saluran itu sendirian. Mau tidak mau, bocah-bocah yang tadinya saling membenci ini harus bekerja sama memindahkan batu-batu besar yang menyumbat air. Setelah krisis selesai, permusuhan mereka lenyap. Mereka bahkan pulang dalam satu bus yang sama sambil bernyanyi. Ada pola psikologis yang sangat kuat di sini, sebuah tombol rahasia di kepala kita yang baru saja ditekan.

III

Lalu, apa yang sebenarnya terjadi di dalam otak kita saat krisis itu datang? Mengapa ego kita tiba-tiba tunduk pada kebutuhan kelompok? Jawabannya ada pada neurokimia dan sejarah evolusi kita. Otak manusia dirancang untuk satu tujuan utama: bertahan hidup. Jutaan tahun lalu, nenek moyang kita sadar bahwa mereka tidak punya taring tajam atau cakar yang kuat. Satu-satunya cara agar tidak punah adalah dengan berkelompok. Di sinilah otak kita melepaskan oxytocin, yang sering dijuluki hormon cinta. Tapi tunggu dulu, hormon ini punya sisi gelap yang jarang dibicarakan. Oxytocin memang membuat kita sangat loyal dan penuh kasih pada kelompok kita (in-group). Namun di saat yang sama, hormon ini membuat kita curiga dan defensif terhadap kelompok luar (out-group). Ini adalah insting purba. Tapi bagaimana jika batas antara "kita" dan "mereka" ini bisa dimanipulasi? Bagaimana jika tombol persatuan ini bisa ditekan kapan saja oleh siapa saja? Jika kita perhatikan baik-baik, sejarah dunia penuh dengan tokoh-tokoh yang menyadari rahasia biologis ini. Dan mereka menggunakannya, kadang untuk menyelamatkan umat manusia, tapi lebih sering untuk tujuan yang jauh lebih egois.

IV

Inilah momen di mana kita berkenalan dengan apa yang dalam sosiologi dan psikologi disebut sebagai External Threat Theory atau teori ancaman eksternal. Inti dari teori ini sangat sederhana namun mematikan: kehadiran musuh bersama akan secara otomatis meningkatkan kohesi atau persatuan di dalam sebuah kelompok. Ketika ada ancaman dari luar, perbedaan internal sekecil apa pun akan dianggap tidak relevan. Otak kita secara otomatis melakukan kalkulasi ulang. "Oke, lupakan dulu soal siapa yang belum bayar kas, kita sedang diserang alien!" Pernahkah teman-teman menonton film fiksi ilmiah seperti Independence Day? Saat alien menyerang bumi, seluruh negara yang tadinya saling ancam dengan senjata nuklir, tiba-tiba bergandengan tangan menembak piring terbang. Pemimpin politik sangat memahami teori ini. Ketika sebuah negara sedang krisis ekonomi, rakyatnya terbelah, dan pemerintahannya terancam jatuh, apa yang biasanya dilakukan oleh pemimpin yang licik? Mereka akan menciptakan atau mencari "musuh bersama". Bisa berupa negara tetangga, ideologi asing, atau kelompok minoritas tertentu. Mereka menunjuk ke arah luar dan berteriak, "Lihat, mereka ingin menghancurkan kita!" Tiba-tiba, rakyat yang tadinya marah pada pemerintah, kini bersatu membela negara. Musuh bersama adalah jalan pintas paling murah dan paling cepat menuju persatuan.

V

Memahami teori ancaman eksternal ini memberi kita sebuah kacamata baru untuk melihat dunia. Kita jadi paham mengapa konflik sengaja dipelihara, dan mengapa manusia sangat mudah diadu domba. Namun, ini bukan berarti kita harus pasrah pada insting purba kita. Pengetahuan ini justru alat yang luar biasa jika kita tahu cara memakainya dengan bijak. Kita tidak perlu mencari negara musuh atau mengambinghitamkan orang lain untuk menyatukan tim di kantor, keluarga, atau komunitas kita. Musuh bersama tidak harus berbentuk manusia. Kita bisa mengubah narasi tersebut. Jadikanlah "kemiskinan" sebagai musuh bersama. Jadikan "perubahan iklim", "tenggat waktu proyek yang mepet", atau "kebodohan" sebagai ancaman eksternal yang harus kita lawan bersama-sama. Pada akhirnya, kita memang makhluk komunal yang butuh alasan untuk saling berpegangan tangan. Daripada bersatu karena kebencian pada sosok tertentu, bukankah jauh lebih indah jika kita bersatu karena kita sama-sama ingin mengalahkan masalah yang menghalangi kita menjadi manusia yang lebih baik? Mari kita pilih "harimau" kita sendiri dengan hati-hati.